𝗪𝗔𝗥𝗜𝗦𝗔𝗡 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗣𝗘𝗥𝗡𝗔𝗛 𝗞𝗔𝗠𝗜 𝗠𝗜𝗡𝗧𝗔
- Jul 2
- 7 min read
Updated: Jul 3

Anak tidak dimiliki oleh orang tua. Anak adalah milik pencipta alam semesta. Orang tua diputuskan menjadi perantara kehadiran mereka di bumi, untuk menjalani kisah yang menjadi milik mereka sendiri.
Anggapan bahwa orang tua memiliki kuasa penuh atas langkah dan kehidupan anak adalah anggapan yang keliru. Kuasa itu tidak pernah diberikan kepada siapa pun secara mutlak. Hanya diberikan tanggung jawab untuk menjaga, membimbing, dan melepaskan pada waktunya.
Ketika seseorang memutuskan membesarkan anak, keputusan itu lahir dari ketulusan terhadap makhluk kecil yang tidak berdaya. Seiring waktu, ketulusan itu kerap diselewengkan menjadi pengorbanan yang dianggap perlu dibalas, menjadi utang yang harus dibayar dengan pencapaian, kepatuhan, atau prestasi yang membanggakan.
Anak diposisikan sebagai pihak yang berhutang atas semua keputusan orang tua dalam membesarkannya.
Setiap manusia bertanggung jawab atas perasaan dan dirinya sendiri. Kebahagiaan orang tua bukan tugas yang dapat dibebankan kepada anak. Anak tidak berkewajiban menjadi alat pemulihan atas rasa kecewa atau kesedihan orang tua yang disebabkan oleh hal lain.
Ketika prinsip ini dilanggar sejak masa kecil, akibatnya bisa fatal, luka itu menetap dan berpindah bentuk, muncul kembali dalam fase dewasa, dalam pernikahan, dalam cara seseorang mencintai diri sendiri dan orang lain.
✦ ✦ ✦
𝗞𝗲𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮
Halo, apa kabar? Terima kasih sudah singgah dan memutuskan membaca hingga akhir. Semoga ini bisa membantu kita memutus ikatan luka kepada diri sendiri dan generasi berikutnya.
Aku menulis kisah ini untuk membantu siapa saja agar melihat, menyadari dan menghentikan luka lama.
Aku ingin mengajakmu menjadi saksi dari proses kami bertumbuh menjadi lebih baik. Mungkin ini sesuatu yang tidak akan kamu temukan di permukaan hidup kami.
Sebab apa yang tampak dari luar, dan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam, adalah dua hal yang berbeda.
Kami menikah hampir lima belas tahun lalu. Jika kamu bertanya kepada orang di sekitar kami, mereka akan mengatakan bahwa pernikahan kami adalah pernikahan yang tenang, minim konflik, dan menyenangkan.
Aku akan membiarkan kamu menilai sendiri, setelah kamu membaca seluruh isi surat ini.
𝗧𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂 𝗦𝗲𝗺𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮
Suamiku berwajah lembut, bertubuh kurus tinggi, bersuara pelan, ramah kepada siapa saja yang dia temui, tenang, pendiam, patuh pada permintaan.
Sepanjang aku mengenalnya, dia tidak pernah sekalipun marah pada siapa pun, dia berekspresi lembut, tidak meninggikan nada, tidak pernah membentak, selalu menyetujui segalanya, dan dia ahli dalam bidang pekerjaannya.
Bagaimana denganku? Sebaliknya.
Aku memiliki perilaku atau gerakan dan mimik yang ekspresif, centil, bersuara lantang karena budaya keluarga yang berdialek demikian, memiliki garis wajah yang tegas, menyukai estetika, menyukai diskusi mendalam, kritis, dan terbiasa menyampaikan isi pikiranku secara berani.
Kontras kami ini melahirkan kesimpulan yang tidak objektif dari orang lain. Mereka menduga aku pasti sering menekannya, sebagian bahkan mencurigai aku tipe pasangan yang sulit dikendalikan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui betapa berat aku menjalani semua ini seorang diri, bertahun-tahun, tanpa penjelasan yang memadai atas apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah kami.
𝗣𝗼𝗹𝗮 𝗕𝗲𝗿𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴
Pola pertama muncul setelah pernikahan berlangsung.
Setiap kali aku melakukan konfrontasi karena kelelahan atau kekecewaan, dia diam total, tidak bergerak dan juga tidak menjawab. Kalimat yang keluar hanya permintaan maaf singkat, tanpa penjelasan apa pun.
Ketika aku mengajaknya berdiskusi melalui pesan singkat, jawabannya selalu umum seperti "iya dik". Ketika aku bertanya langsung, jawabannya tetap sama.
Diskusi mendalam yang aku butuhkan sebagai bagian dari caraku mencintai, tidak pernah benar-benar terjadi. Dia membantu pekerjaan rumah dan menjaga anak. Tetapi semua itu terjadi karena aku memintanya di awal pernikahan kami.
𝗕𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵
Waktu berjalan, dan aku menemukan hal lain yang lebih dalam.
Dia terbiasa menyampaikan hal yang tidak sesuai kenyataan, dari perkara kecil hingga besar, dengan cara yang begitu wajar sehingga sulit dikenali sebagai kebohongan.
Aku menelusuri kembali rangkaian peristiwa, hingga menemukan bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang membuat hatiku terluka.
Ketika mengetahui hal ini, aku berduka.
Duka ini begitu nyata. Aku menangis berhari-hari, bahkan dalam tangisan yang begitu dalam hingga suaraku hilang, menekan dada karena rasanya begitu menyakitkan, larut dalam kehancuran ini sendirian.
Begitu tiba di rumah, aku membuka semua referensi psikologi, pola pengasuhan, jurnal, buku, dan kembali membuka catatan lama di studiku yang sudah melewati hampir dua dekade berlalu.
Aku mencatat dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi aku sulit objektif. Hingga akhirnya aku putus asa, kelelahan, kurang tidur, berantakan, dan semua mulai tidak kondusif.
𝗞𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗱𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗗𝗮𝘁𝗮
Kubuat langkah pasti untuk mencari bantuan profesional yang paling dekat tempat tinggalku, tujuanku datang konseling hanya 2 hal:
𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘵𝘢𝘶𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯? 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢.
𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘱𝘴𝘪𝘬𝘰𝘭𝘰𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯.
Pada pertemuan kedua, dia diminta datang sendiri. Dia sempat menyangkal dan mengatakan bahwa aku bersikap berlebihan, aku mengerti barangkali dia malu. Hingga akhirnya dia mengakui semuanya, dia melakukannya karena belum memiliki kemampuan membatasi diri, prinsip, nilai hidup dan belum mampu mengendalikan situasi, selain itu hal tersebut terhubung dengan kebutuhannya akan validasi.
Aku juga mengingat kembali satu peristiwa dari masa sebelum pernikahan, ketika aku menghilang tanpa kabar darinya selama hampir tiga minggu. Alih-alih mencari jawaban atas jarak yang terjadi, dia justru mencari kedekatan baru. Ketika dia merasa ditinggalkan, maka dia akan segera mencari pengganti untuk menghindari rasa takut akan kesendirian dan mempersepsikannya sebagai kesepian.
Hasil pemeriksaan tes memberi penjelasan yang membuatku kaget. Laporan tersebut mencatat adanya distorsi persepsi (gambaran mengenai diriku dan ibunya saling tumpang-tindih, dia melihatku sebagai sosok otoriter seperti sang ibu). Ibu mertuaku dikenal otoriter dan menuntut.
Sejak kecil, suamiku belajar bahwa komunikasi adalah sesuatu yang mengancam. Dia mengembangkan cara bertahan berupa diam, menarik diri, dan menghindari konfrontasi. Pola ini terbawa ke dalam pernikahan kami.
Setiap kali aku bertanya, dia menghayatinya sebagai bentuk ancaman yang sama seperti masa kecilnya, bukan sebagai bagian dari berpikir bersama, mengevaluasi bersama, membuat planning atau pembicaraan yang membangun kedekatan. Dia membacanya sebagai ancaman.
Ibunya membesarkan semua anak dengan konsep persaingan nilai.
jika salah satu mendapat nilai rendah, maka sang ibu akan membandingkan dengan anak yang lainnya, kemudian bersikap seolah merendahkan dan mengabaikan.
Karena itulah suamiku akan selalu berupaya memberikan hasil yang membanggakan, Dia tumbuh dengan mencari validasi dari orang lain dengan mengabaikan perasaannya sendiri,
Sang ibu mengendalikan segalanya.
Dia berpikir selama dia mendapat pujian, teman, dan dibanggakan orang lain atau orang tua, maka situasinya aman dan dia rela menekan perasaannya demi hal tersebut. Tanpa sadar terbiasa berpura-pura tampil sebagai gambaran anak yang baik dan patuh demi rasa aman dari reaksi sang ibu. Suamiku tidak menyadari bahwa ini terus dilakukannya sampai dia dewasa.
Dia menekan ketidaknyamanannya hanya untuk menghindari konflik dan bertahan
Itulah yang kerap dia lakukan di lingkungan kerjanya; menjadi yes man untuk rekan kantor, untuk siapa saja yang memanfaatkannya. Aku sedih mengetahui suamiku begitu kelelahan dalam hidupnya untuk memenuhi harapan dan ekspektasi orang lain. Hingga dia mengalami depresi awal dengan tingkat yang lumayan berat. Hal ini dijelaskan dalam hasil tesnya.
Yang menarik perhatianku, di tempat kerja, dia dikenal berdedikasi tinggi. Aku menduga hal ini terjadi karena pekerjaan memberinya struktur yang jelas, prosedurnya sudah ada, aktifitas yang tidak menuntut kesadaran emosional mendalam. Berbeda dengan relasi diluar pekerjaan yang menuntut kehadiran dan keterbukaan dengan semua dinamika yang ada.
𝗧𝘂𝗯𝘂𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗞𝗲𝗹𝗲𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻
Tubuhku ikut menanggung tekanan ini. Suatu hari aku kehilangan kemampuan bicara secara mendadak, disertai bicara pelo. Suamiku sempat ragu membawaku ke unit gawat darurat karena menurutnya kondisiku masih tampak normal, hingga waktu berlalu. Ibuku, yang saat itu memantau melalui panggilan video, justru melihat kesulitanku dengan jelas dan mendesakku segera mencari pertolongan.
Pemeriksaan di rumah sakit menunjukkan adanya infark pada thalamus bilateral, yaitu kematian jaringan otak pada baian thalamus bilateral, yang menurut penelusuran medis berkaitan dengan tekanan psikis berlebihan. Meskipun dokter merasa aneh karena aku masih memiliki kemampuan dan kesadaran penuh, tapi memang kuakui kemampuan bicarakaku sedikit melambat dan ada perbedaan ukuran mata dan titik fokus pada salah satu mataku yang muncul sejak kondisi ini terjadi.
𝗗𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗶𝗸𝗮𝘁
Ketika aku menyampaikan keinginan untuk berpisah, dia menangis seperti anak kecil yang takut ditinggalkan, tangisannya bukan karena dia mengerti dan menyadari lukaku, tapi karena dia tidak tahan dalam suasana yang tidak nyaman tersebut.
Dia cenderung mengikuti responsku, ketika aku kecewa, dia ikut menarik diri. Ketika aku marah karena hatiku yang terluka, dia memilih menghindar dan menarik diri.
Suamiku dibesarkan dengan dituntut memenuhi harapan ibunya, dia dipaksa untuk selalu bisa mencapai prestasi, namun sang ibu akan menutup akses pengembangan diri anak (melarangnya bersosialisasi intens, melarangnya berorganisasi, melarangnya mengikuti kegiatan) dan setiap kali suamiku menghadapi dinamika atau konflik, ibunya akan menyelesaikannya dengan berpikir bahwa tugas anak adalah belajar, dapat nilai bagus, sehingga konflik yang harusnya bisa mendewasakan anaknya, akan diselesaikan oleh orang tuanya.
Apa yang terjadi?
Anak tersebut kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah, dan tidak memiliki daya pegas atau daya lenting menghadapi konflik. Setiap terjadi konflik atau dinamika dalam hubungan kami, suamiku akan menghindar atau menarik diri hingga waktu berjalan jauh tanpa dia menjelaskan atau menyelesaikannya.
Ini hal yang sulit sekali kuterima. Karena aku kelelahan sendiri.
Dia tidak pernah sepenuhnya menempatkan diri sebagai pasangan yang berjalan beriringan denganku.
Distorsi persepsinya membuatnya memandangku seolah aku adalah sosok ibunya.
Sedangkan aku memberikan diriku secara utuh kepadanya.
Aku mendukungnya, aku membantunya berdiri, aku membantunya membuat langkah yang diinginkannya.
Namun kehadiranku selama ini rasanya seperti tidak sepenuhnya dikenali oleh orang yang aku cintai.
𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗜𝗻𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗼𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗞𝗮𝗺𝗶
Hari ini, kami masih berada dalam pernikahan.
Dia perlahan menunjukkan perbaikan, kini dia mulai bisa menghargai dirinya, dia mulai menghentikan mencari validasi dari orang lain, dan dia sedang belajar untuk bisa menghadapi konflik.
Sesi konseling kami hentikan sudah sangat lama, tepat setelah tes dilakukan dengan alasan yang tidak bisa kami jelaskan disini, dan kami belum sempat mendapat terapi.
Aku perlahan mendampinginya dan membantunya menyadari dan mengakui semua luka itu, memandang kesendirian sebagai eksklusivitas, dan lebih berfokus melihat diri sendiri, yang paling sukit darinya adalah membangun kesadaran yang telah lama tertidur.
Aku menulis kisah ini untuk menjelaskan bahwa
Sesuatu yang tampak sempurna dari luar tidak selalu mencerminkan kebenaran di dalamnya. Ketenangan yang terlihat di permukaan, bisa jadi berasal dari ketidakmampuan menghadapi realitas, hal tersebut akibat dari luka masa lalu yang belum pernah diselesaikan oleh pewaris sebelumnya.
Aku berharap suamiku belajar dari kisah ini, sebagaimana aku belajar dari setiap bagiannya.
Aku memohon doamu, untuk kebaikan kami, selamanya.
Salam hangat,
𝑺𝒆𝒏 𝑾





Comments