top of page
Search

Aku Menulis Buku tentang Penerbangan yang Tidak Pernah Mendarat

  • May 2
  • 2 min read
Sen W
Sen W


Beberapa bulan terakhir aku duduk lama pada malam hari dan menulis sesuatu yang sebenarnya untuk diriku sendiri. Aku memberinya judul Pesawatnya Berguncang. Aku masih di dalam. Aku memilih nama pena Sen W untuk buku itu.


Buku ini lahir dari satu malam yang tidak akan pernah aku lupakan.

Ada kabar bahwa seseorang yang kukenal sangat putus asa. Aku tidak mengenalnya dengan dekat, kami hanya pernah bertemu sekali di sebuah acara. Malam itu aku buru-buru mencari alamatnya dan datang. Pulang dari sana aku menangis sepanjang jalan, karena aku menyadari satu hal: dia tidak pernah punya ruang untuk dirinya sendiri. Tidak pernah ada yang mengajaknya duduk dan berkata "Ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi?".


Viktor Frankl menulis dalam Man's Search for Meaning (1946) bahwa manusia bisa menanggung hampir semua penderitaan selama dia tahu mengapa dia menanggungnya. Kebanyakan dari kita tidak pernah diberi waktu untuk mencari tahu.


Buku ini adalah penerbangan empat jam menuju dirimu sendiri. Di dalamnya pembaca akan ditemani Viktor Frankl, Carl Jung, Jean-Paul Sartre, Jalaluddin Rumi, Paulo Freire, Kristin Neff, dan Imam Al-Ghazali. Tujuh pemikir besar yang masing-masing pernah duduk di kursi kita.


Bab pertama bicara tentang mengenal diri. Tentang bagaimana kita menghabiskan energi luar biasa besar untuk menjadi orang yang diterima orang tua, pasangan, atasan, dan media sosial, sampai suatu hari kita berdiri di depan cermin dan tidak mengenali orang yang balas menatap kita.


Bab dua bicara tentang kecemasan. Robert Sapolsky, profesor neurobiologi Stanford, menghabiskan puluhan tahun mempelajari satu pertanyaan: mengapa manusia jauh lebih stres dibanding hewan liar? Jawabannya menyakitkan. Otak kita tidak membedakan singa yang mengejar dengan email atasan yang belum dibalas.


Aku menulis bab tentang kegagalan dengan satu pengakuan: aku belum selesai mengenal diriku sendiri. Aku baru sampai di titik sadar bahwa aku masih belum tahu banyak hal tentang diriku. Mungkin kita baru di pintu keberangkatan yang sama. Yang penting, kita berjalan.


Di bagian akhir buku ada Ruang Bantuan Khusus. Dua belas halaman pemulihan yang aku tulis lebih dahulu sebelum bab-bab lain.

Untukku dulu, lalu untukmu. Berisi panduan napas dari Andrew Weil, latihan grounding dari Lisa Najavits, tujuh kalimat welas asih dari Kristin Neff, dan halaman jurnal pemulihan dengan metode bullet journal.


Kalau di tengah membaca kamu merasa perlu berhenti, ruang itu sudah aku siapkan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin khususnya di bagian Kitab Syarh Aja'ib al-Qalb menulis bahwa pengenalan diri adalah pintu pertama menuju pengenalan kepada Tuhan. Buku ini hanya satu titik kecil dalam perjalanan panjang itu. Aku menawarkan pertanyaan yang tepat, namun aku tidak bisa membuatmu menemukan jawabannya. Itu pekerjaanmu sendiri.


Buku ini akan duduk di sebelahmu, dan mendengarkan.


Pesawatnya Berguncang. Aku masih di dalam.



 
 
foto8_edited_edited_edited_edited_edited

Hi, thanks for stopping by!

Saya menyukai proses berpikir, mencatat, dan membingkai ulang hal-hal yang sering kali luput. Blog ini adalah salah satu cara saya merawat arah.

Let the posts come to you.

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Pinterest
Tidak semua hal bisa dibicarakan di ruang publik
tapi kamu bisa mulai dari sini!

© 2035 by Turning Heads. Powered and secured by Wix

bottom of page