Mengalah Menjadi Kebiasaan, Bukan Pilihan?
- Aug 7, 2025
- 1 min read

Seringkali kita bilang, “Tidak apa-apa.”
Lalu diam. Lama.
Apakah karena semuanya benar-benar baik-baik saja?
Ataukah karena kita sedang mencoba menenangkan hati,
mengukur lagi, apakah perlu mengalah satu kali lagi…
“demi kedamaian”, pikir kita —
sebenarnya belum tentu juga untuk kita.
Lalu, tenang ini sebenarnya untuk siapa?
Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dengan keyakinan bahwa mengalah adalah tanda kedewasaan.
Memberi ruang adalah cara mencintai.
Memahami orang lain adalah bentuk kekuatan.
Dan semua itu tidak salah.
Tapi…
Bagaimana kalau kita terus-menerus menyingkir?
Bagaimana kalau perlahan kita lupa bahwa diri kita pun punya tempat yang layak dijaga?
Mimpi yang kita tunda terlalu lama.
Kalimat yang tertahan.
Keputusan yang terasa tidak adil.
Semua itu kita setujui karena lelah bertanya.
Lalu, ketika muncul pertanyaan,
“Mengapa aku jadi seperti ini?” Kita bingung.
Karena kita tidak lagi ingat, kapan terakhir kali memilih untuk berpihak pada diri sendiri.
Mungkin, saat itu kita hanya perlu berhenti sebentar.
Menarik napas…
Bertanya dengan lembut:
Apakah ini hidup yang benar- benar aku inginkan..?
Atau hidupku hanya untuk menjalani karena takut kehilangan ketenangan semu..?”



