Kekerasan Rumah Tangga; Kesadaran dan Kesehatan Mental Tak Bisa Diabaikan
- Jun 17, 2025
- 2 min read
Updated: Jun 20, 2025
Baru-baru ini saya membaca salah satu platform berita nasional yang memberitakan tentang seorang suami yang membunuh istrinya sendiri. Membaca kisah tragis seperti ini terasa seperti tamparan realita. Di balik pintu rumah yang tampak biasa, bisa saja tersembunyi masalah mental, tekanan, dan konflik yang akhirnya meledak menjadi kekerasan.
Kasus seperti ini bukan hanya soal hukum. Ini juga tentang kegagalan kita memahami pentingnya kesehatan mental dan kesadaran diri dalam menghadapi tekanan hidup. Kesehatan mental bukan sekadar istilah tren. Ini benar-benar pondasi untuk menciptakan keluarga yang aman, suportif, dan bebas dari bahaya.
Kesadaran terhadap kesehatan mental dalam keluarga sering kali dianggap remeh. Banyak orang percaya bahwa konflik rumah tangga hanyalah urusan pribadi yang bisa diselesaikan sendiri. Padahal, tekanan hidup, stres ekonomi, hingga luka batin masa lalu bisa menumpuk dan membentuk pola kekerasan yang berulang tanpa disadari. Ketika seseorang tidak mampu mengelola emosi dan tidak punya ruang aman untuk berbicara, konflik kecil pun bisa berubah menjadi tragedi.
Pendidikan tentang kesehatan mental dan komunikasi sehat seharusnya sudah menjadi bagian dari literasi dasar setiap keluarga. Mengakui masalah bukan kelemahan. Justru di sanalah letak kekuatan: berani jujur pada diri sendiri, mencari pertolongan profesional, atau setidaknya membangun dukungan di lingkungan terdekat.
Masyarakat juga punya peran penting dalam mencegah kekerasan rumah tangga. Jangan ragu untuk peduli pada teman, tetangga, atau saudara yang mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan perilaku atau menarik diri dari lingkungan. Seringkali, satu dukungan sederhana bisa mencegah seseorang terjerumus ke dalam tindakan yang tidak diinginkan.
Kesehatan mental dan kesadaran bukan solusi instan. Tapi dengan memahami pentingnya dua hal ini, kita bisa membangun keluarga dan lingkungan yang lebih aman, saling mendukung, dan mampu mencegah bahaya sebelum terlambat.
Penanganan kekerasan rumah tangga memang tidak mudah dan tidak pernah cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Keluarga yang sehat dimulai dari individu yang sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi terbuka, dan keberanian mencari bantuan. Dunia pendidikan juga memegang peran penting dalam membangun budaya peduli, mengajarkan empati, serta menanamkan nilai bahwa meminta pertolongan bukanlah aib.
Sebagai masyarakat, kita punya pilihan untuk tidak menutup mata. Dukungan kecil dan kepekaan terhadap sekitar bisa jadi penyelamat dalam situasi yang tidak terlihat. Meningkatkan kesadaran, memperkuat mental, dan memutus siklus kekerasan adalah upaya bersama yang dimulai dari ruang terkecil: keluarga.
Penting!. Jika kamu atau seseorang di sekitarmu mengalami tekanan mental, konflik rumah tangga, atau tanda-tanda kekerasan, jangan ragu untuk mencari pertolongan. Bisa dimulai dengan berbicara pada orang yang dipercaya, berkonsultasi dengan konselor sekolah, atau menghubungi layanan pengaduan seperti Call Center KDRT 129 atau +62 811-1129-129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).
“Keluarga yang sehat bukan yang tanpa masalah,
tapi yang mampu saling mendengarkan dan
mau tumbuh bersama melewati tantangan.”
Ingat, membangun keluarga yang aman dan suportif adalah investasi seumur hidup, bukan sekadar rutinitas harian.
Referensi:
World Health Organization (2021). Violence against women prevalence estimates.
Spencer, C. M., et al. (2020). Risk markers for intimate partner violence and health outcomes among women. BMC Psychiatry.




