top of page
Search

Ketika Manusia Tak Lagi Memanusiakan Manusia: Anatomia Dehumanisasi di Era Kekuasaan dan Materialisme

  • Jul 10, 2025
  • 7 min read

Sandy Eka Nilasari Wibowo

Ketika Manusia Tak Lagi Memanusiakan Manusia: Anatomia Dehumanisasi di Era Kekuasaan dan Material
ilustrasi

Paradoks Kehidupan yang Berharga namun Rapuh


Kehidupan manusia adalah entitas yang paling berharga di alam semesta. Setiap individu membawa dalam dirinya kompleksitas emosi, pikiran, harapan, dan cerita yang unik. Namun, dalam realitas yang keras, kehidupan seringkali diperlakukan layaknya mainan yaitu objek yang dapat dimanipulasi, dikorbankan, atau dibuang demi kepentingan yang lebih besar. Fenomena ini, yang dikenal dalam psikologi sebagai dehumanisasi, telah menjadi salah satu mekanisme paling destruktif dalam peradaban manusia.


Teori Moral Disengagement Albert Bandura

Albert Bandura, psikolog terkemuka dari Stanford University, mengembangkan teori Moral Disengagement yang menjelaskan bagaimana individu dapat berperilaku tidak etis tanpa merasakan tekanan psikologis. Bandura menidentifikasi dehumanisasi sebagai salah satu mekanisme utama dalam proses ini. Menurut penelitiannya, dehumanisasi memungkinkan seseorang untuk "mematikan" empati dan pertimbangan moral terhadap orang lain dengan cara memandang mereka bukan sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai objek atau makhluk yang lebih rendah.


Teori ini didukung oleh temuan empiris yang menunjukkan bahwa ketika seseorang berhasil mendehumanisasi orang lain, mereka dapat melakukan tindakan yang secara normal akan dianggap tidak bermoral atau bahkan kejam. Proses kognitif ini melibatkan restructuring pemikiran yang memungkinkan individu untuk memisahkan diri dari standar moral internal mereka.



Kekuasaan sebagai Katalis Dehumanisasi


Eksperimen Penjara Stanford yang legendaris pada tahun 1971 memberikan wawasan awal tentang bagaimana kekuasaan dapat mengubah perilaku manusia secara drastis. Dalam eksperimen tersebut, mahasiswa yang berperan sebagai penjaga penjara dengan cepat mengembangkan perilaku yang mendehumanisasi terhadap "tahanan" mereka, meskipun mereka tahu bahwa semua peserta adalah rekan sesama mahasiswa dari universitas yang sama.


Penelitian terbaru oleh Lammers dan Stapel menguatkan temuan ini dengan bukti yang lebih sistematis. Dalam serangkaian eksperimen yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology, mereka menemukan bahwa pengalaman atau kepemilikan kekuasaan secara signifikan meningkatkan kecenderungan untuk mendehumanisasi orang lain. Individu yang memiliki kekuasaan lebih cenderung mempersepsikan orang lain sebagai objek daripada manusia yang memiliki perasaan, pikiran, dan kebutuhan yang kompleks.


Mengapa Kekuasaan Mengkorupsi Empati

Kekuasaan menciptakan jarak psikologis antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Posisi kekuasaan mengharuskan seseorang untuk membuat keputusan yang sulit untuk orang lain, seringkali tanpa mempertimbangkan dampak personal yang akan dialami individu tersebut. Seiring waktu, jarak psikologis ini berkembang menjadi ketidakmampuan untuk sepenuhnya menghargai kemanusiaan orang lain.


Penelitian neurosains menunjukkan bahwa kekuasaan dapat mengubah fungsi otak, khususnya dalam area yang bertanggung jawab untuk empati dan teori pikiran—kemampuan untuk memahami perspektif orang lain. Individu yang memiliki kekuasaan menunjukkan aktivitas yang berkurang di area otak yang terkait dengan kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain.



Uang sebagai Agen Dehumanisasi


Bagaimana Uang Mengubah Persepsi Diri dan Orang Lain

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology oleh Quoidbach dan Dunn mengeksplorasi bagaimana fokus pada uang dapat menyebabkan "self-dehumanization", yaitu proses dimana individu mulai memandang diri mereka sendiri sebagai mesin atau objek daripada manusia yang utuh. Fenomena ini kemudian berimbas pada cara mereka memandang orang lain.


Penelitian dari University of California, Berkeley, yang dipimpin oleh Paul Piff, menunjukkan bahwa individu yang lebih kaya cenderung menunjukkan perilaku yang kurang prososial dan lebih cenderung untuk melihat keserakahan dan kepentingan diri sebagai hal yang dapat dibenarkan secara moral. Mereka juga lebih mungkin untuk berbohong dan melanggar aturan jika hal tersebut menguntungkan mereka.


Ketika Paparan Uang Mengubah Perilaku Moral

Penelitian dari Harvard dan University of Utah menemukan bahwa bahkan sekadar memikirkan uang dapat memicu perilaku tidak etis. Dalam eksperimen mereka, partisipan yang diekspos pada kata-kata yang berkaitan dengan uang lebih cenderung berbohong atau berperilaku secara tidak bermoral dibandingkan dengan kelompok kontrol.


Fenomena ini menunjukkan bahwa uang tidak hanya mempengaruhi orang yang memilikinya dalam jumlah besar, tetapi bahkan paparan konseptual terhadap uang dapat mengaktifkan skema kognitif yang mengutamakan keuntungan personal di atas pertimbangan moral dan empati terhadap orang lain.



Dari Dehumanisasi ke Perilaku Tidak Etis


Teori Spiral Dehumanisasi, Perilaku Tidak Etis

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dehumanisasi dan perilaku tidak etis membentuk siklus yang saling memperkuat. Ketika seseorang melakukan tindakan tidak etis, mereka sering mengalami self-dehumanization sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Proses ini kemudian memudahkan mereka untuk melakukan tindakan tidak etis selanjutnya, menciptakan spiral degradasi moral yang progresif.


Studi yang dipublikasikan dalam Association for Psychological Science menunjukkan pola yang konsisten: individu yang mengalami self-dehumanization akibat perilaku tidak etis mereka cenderung lebih mudah untuk melakukan tindakan tidak etis di masa depan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menyarankan bahwa self-dehumanization dapat memicu perilaku kompensatoris yang lebih moral, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks perilaku tidak etis yang didorong oleh keserakahan atau keinginan pribadi, self-dehumanization justru memfasilitasi degradasi moral lebih lanjut.



Manifestasi dalam Kehidupan Nyata


Dehumanisasi dalam Dunia Korporat

Dalam dunia bisnis, dehumanisasi sering termanifestasi dalam bentuk perlakuan terhadap karyawan sebagai "sumber daya manusia" yang dapat dioptimalkan, direstrukturisasi, atau dihilangkan demi efisiensi dan profitabilitas. Teori moral disengagement Bandura menjelaskan bagaimana manajer yang sebenarnya prososial dapat mengadopsi praktik korporat yang merugikan melalui proses moral disengagement selektif.


Dehumanisasi dalam Struktur Kekuasaan

Dalam struktur hierarkis, baik di organisasi, pemerintahan, maupun institusi lainnya, dehumanisasi memungkinkan individu yang memiliki kekuasaan untuk membuat keputusan yang berdampak negatif terhadap orang lain tanpa mengalami tekanan psikologis yang signifikan. Mereka dapat memandang subordinat atau masyarakat sebagai angka statistik daripada individu dengan kehidupan yang kompleks dan berharga.



Implikasi Sosial dan Psikologis


Erosi Kohesi Sosial

Dehumanisasi yang sistematis dapat mengikis fondasi kohesi sosial. Ketika individu dalam posisi kekuasaan atau dengan akses terhadap sumber daya yang signifikan mulai memandang orang lain sebagai objek, hal ini dapat menciptakan jurang pemisah yang semakin dalam dalam masyarakat. Empati, yang merupakan perekat sosial yang penting, menjadi tererosi, dan masyarakat menjadi lebih rentan terhadap konflik dan ketidakadilan.


Normalisasi Perilaku Eksploitatif

Salah satu konsekuensi paling berbahaya dari dehumanisasi adalah normalisasi perilaku eksploitatif. Ketika dehumanisasi menjadi bagian dari budaya organisasi atau sosial, perilaku yang seharusnya dianggap tidak dapat diterima menjadi "normal" atau bahkan "diperlukan untuk bisnis." Ini menciptakan lingkungan dimana eksploitasi dan perlakuan tidak manusiawi terhadap orang lain menjadi bagian dari status quo.



Mekanisme Perlawanan dan Pencegahan


Peningkatan Kesadaran Moral

Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran akan mekanisme dehumanisasi dapat menjadi langkah pertama dalam pencegahan. Pendidikan tentang bias kognitif dan proses moral disengagement dapat membantu individu untuk lebih sadar akan kecenderungan mereka sendiri untuk mendehumanisasi orang lain.


Struktural Safeguards

Implementasi sistem check and balance yang kuat dalam organisasi dan institusi dapat membantu mencegah akumulasi kekuasaan yang berlebihan pada individu atau kelompok tertentu. Rotasi kekuasaan, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan akuntabilitas yang jelas adalah beberapa mekanisme yang dapat membantu.


Kultivasi Empati

Penelitian menunjukkan bahwa empati dapat dikultivasi melalui latihan dan paparan. Program yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan individu untuk memahami dan merasakan perspektif orang lain dapat menjadi alat yang efektif dalam melawan kecenderungan dehumanisasi.



Mengembalikan Kemanusiaan dalam Era yang Kompleks


Dehumanisasi bukanlah fenomena yang tak terhindarkan atau alamiah. Ia adalah hasil dari proses psikologis yang dapat dipahami dan, yang lebih penting, dapat dicegah. Pemahaman tentang bagaimana kekuasaan dan uang dapat mengkorupsi empati dan pertimbangan moral kita adalah langkah pertama dalam membangun masyarakat yang lebih manusiawi.


Tantangan terbesar adalah mengembangkan sistem dan budaya yang dapat mempertahankan kemanusiaan bahkan dalam konteks dimana kekuasaan dan sumber daya material memiliki peran yang signifikan. Ini membutuhkan komitmen kolektif untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan ekonomi atau politik jangka pendek.


Kehidupan manusia memang berharga, tetapi nilai tersebut harus terus-menerus diperjuangkan dan dipertahankan melalui pilihan sadar dan sistem yang mendukung. Hanya dengan demikian kita dapat mencegah kehidupan manusia menjadi sekadar "mainan" dalam permainan kekuasaan dan material yang lebih besar.




Daftar Referensi

Referensi Utama

Bandura, A. (1999). Moral disengagement in the perpetration of inhumanities. Personality and Social Psychology Review, 3(3), 193-209.

Bandura, A. (2002). Selective moral disengagement in the exercise of moral agency. Journal of Moral Education, 31(2), 101-119.

Lammers, J., & Stapel, D. A. (2011). Power increases dehumanization. Group Processes & Intergroup Relations, 14(1), 113-126.

Piff, P. K., Stancato, D. M., Côté, S., Mendoza-Denton, R., & Keltner, D. (2012). Higher social class predicts increased unethical behavior. Proceedings of the National Academy of Sciences, 109(11), 4086-4091.

Quoidbach, J., & Dunn, E. W. (2013). Give it up: A concise guide to mental subtraction. Journal of Experimental Social Psychology, 49(4), 571-574.

Haney, C., Banks, C., & Zimbardo, P. (1973). Interpersonal dynamics in a simulated prison. International Journal of Criminology & Penology, 1(1), 69-97.


Referensi Pendukung

Vohs, K. D., Mead, N. L., & Goode, M. R. (2006). The psychological consequences of money. Science, 314(5802), 1154-1156.

Kish-Gephart, J. J., Harrison, D. A., & Treviño, L. K. (2010). Bad apples, bad cases, and bad barrels: Meta-analytic evidence about sources of unethical decisions at work. Journal of Applied Psychology, 95(1), 1-31.

Granic, I., Morita, H., & Scholten, H. (2020). Beyond the lab: Investigating moral disengagement in real-world contexts. Current Opinion in Psychology, 31, 111-116.

Bastian, B., Denson, T. F., & Haslam, N. (2013). The roles of dehumanization and moral outrage in retributive justice. PLoS One, 8(4), e61842.

Waytz, A., Hoffman, K. M., & Trawalter, S. (2015). A superhumanization bias in whites' perceptions of blacks. Social Psychological and Personality Science, 6(3), 352-359.

Kteily, N., Bruneau, E., Waytz, A., & Cotterill, S. (2015). The ascent of man: Theoretical and empirical evidence for blatant dehumanization. Journal of Personality and Social Psychology, 109(5), 901-931.

Mazar, N., Amir, O., & Ariely, D. (2008). The dishonesty of honest people: A theory of self-concept maintenance. Journal of Marketing Research, 45(6), 633-644.

Galinsky, A. D., Rucker, D. D., & Magee, J. C. (2015). Power: Past findings, present considerations, and future directions. APA Handbook of Personality and Social Psychology, 3, 421-460.

Keltner, D., Gruenfeld, D. H., & Anderson, C. (2003). Power, approach, and inhibition. Psychological Review, 110(2), 265-284.


Referensi Metodologis

Rai, T. S., & Fiske, A. P. (2011). Moral psychology is relationship regulation: Moral motives for unity, hierarchy, equality, and proportionality. Psychological Review, 118(1), 57-75.

Monin, B., & Miller, D. T. (2001). Moral credentials and the expression of prejudice. Journal of Personality and Social Psychology, 81(1), 33-43.

Shu, L. L., Gino, F., & Bazerman, M. H. (2011). Dishonest deed, clear conscience: When cheating leads to moral disengagement and motivated forgetting. Personality and Social Psychology Bulletin, 37(3), 330-349.


Referensi Neurosains

19. Hogeveen, J., Inzlicht, M., & Obhi, S. S. (2014). Power changes how the brain responds to others. Journal of Experimental Psychology: General, 143(2), 755-762.

20. Chiao, J. Y., Mathur, V. A., Harada, T., & Lipke, T. (2009). Neural basis of preference for human social hierarchy versus egalitarianism. Annals of the New York Academy of Sciences, 1167(1), 174-181.



 
 
foto8_edited_edited_edited_edited_edited

Hi, thanks for stopping by!

Saya menyukai proses berpikir, mencatat, dan membingkai ulang hal-hal yang sering kali luput. Blog ini adalah salah satu cara saya merawat arah.

Let the posts come to you.

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Pinterest
Tidak semua hal bisa dibicarakan di ruang publik
tapi kamu bisa mulai dari sini!

© 2035 by Turning Heads. Powered and secured by Wix

bottom of page